Kamis, 20 Oktober 2016

LIBRARY STYLE NET GENERATION




 Perkembangan sosial budaya masyarakat ditandai dengan penciptaan, pemrosesan dan desiminasi informasi yang menghasilkan ilmu pengetahuan sebagai sarana untuk menciptakaan kehidupan yang lebih baik. Nilai informasi tidak saja menjadi komoditas yang berguna untuk proses pengambilan keputusan yang digunakan untuk memenangkan persaingan, tetapi saat ini informasi menjadi jargon yang sudah jamak dilaksanakan oleh masyarakat dalam kehidupan keseharian. Information is power menjadi gambaran nyata bahwa saat ini dengan berbagai macam indikator penggunaan teknologi informasi menjadi contoh nyata masyarakat terkondisikan dengan berbagai macam sarana yang menuntut keabsahan nilai informasi menjadi hal yang utama. Terlebih dengan hadirnya generasi digital native yang lahir pada saat teknologi digital telah ada dalam kesehariannya. Generasi yang peka terhadap perkembangan teknologi digital, berjejaring, independent yang memiliki sifat berbeda dengan generasi-generasi sebelumnya. Digital native lahir dari perkembangan masyarakat informasi yang lebih mengutamakan nilai dan keabsahan informasi yang dihasilkan oleh perpustakaan sebagai lembaga layanan informasi yang dapat dipertanggungjawabkan. Tantangan terbesar bagi perpustakaan adalah bagaimana mengakomodasi kebutuhan-kebutuhan informasi digital native yang memiliki sifat “berbeda” dengan generasi sebelumnya. Transisi bentuk layanan perpustakaan dan transformasi pustakawan yang akomodatif menjadi kata kunci bagaimana seharusnya perpustakaan dapat menjadi bagian dari “gaya hidup” generasi digital native. Gaya hidup digital native adalah gaya hidup perpustakaan.


Pendahuluan
Penciptaan dan penerapan ilmu pengetahuan yang diaplikasikan dengan teknologi membawa dampak luas bagi perkembangan sosial dan budaya masyarakat. Ilmu pengetahuan dan teknologi sejatinya digunakan untuk memecahkan berbagai permasalahan kehidupan masyarakat menuju kehidupan yang baik dan selaras dengan semua aspek yang menyertainya. Sebagai mata rantai hasil pengetahuan yang dapat diaplikasikan bagi kehidupan sosial yang lebih baik, ilmu pengetahuan lahir dari hasil pola pikir bagaimana proses berupa fakta atau data diproses menjadi informasi. Data yang diproses menjadi informasi kemudian menjadi petunjuk yang apabila dielaborasi dengan cipta, rasa dan karsa manusia menjadi nilai kebijaksanaan/wisdom yang digunakan untuk proses pengambilan keputusan. Rangkaian ilmu pengetahuan memerlukan lembaga yang memiliki kompetensi, kemampuan dan tanggungjawab akan nilai informasi yakni perpustakaan. Kemampuan perpustakaan dalam menciptakan, memproses dan mendesiminasikan informasi ilmu pengetahuan menjadi bagian integral dalam tatanan kebutuhan masyarakat dewasa ini. Perpustakaan adalah institusi pengelola koleksi karya tulis, karya cetak dan karya rekam secara professional dengan sistem yang baku guna memenuhi kebutuhan pendidikan, penelitian, pelestarian informasi dan rekreasi bagi para pemustaka. Implementasi dari perpustakaan tersebut sebagai sebuah institusi layanan publik tentang keinformasian dan pembelajaran adalah terciptanya berbagai jenis perpustakaan yang disesuaikan dengan segmen masyarakat atau pemustaka perpustakaan itu sendiri.

Perpustakaan telah berkembang mengikuti pola peradaban yang menyangkut aspek sosial dan pengetahuan, yang pada hakikatnya merupakan hasil dari pengaruh sosial budaya masyarakat dalam upaya untuk menghasilkan kehidupan yang lebih baik. Kondisi saat ini perpustakaan dapat diidentifikasi sebagai bagian dari hasil sinergi antara ilmu pengetahuan dan teknologi jaringan yang berfungsi sebagai pusat informasi untuk didistribusikan dan dikonsumsi oleh masyarakat, bahkan saat ini berkembang jargon ‘information is power’ yang menunjukan bahwa peran dan hasil produksi informasi dari perpustakaan berfungsi sebagai sarana untuk memenangkan pesaingan.

Toffler (1980) menyebutkan bahwa perubahan sosial budaya dan perkembangan masyarakat dikategorikan dalam tiga gelombang yang dimulai dari gelombang pertama sebagai masyarakat pertanian (agraris), gelombang kedua masyarakat industri dan gelombang ketiga pada kondisi setelah era runtuhnya perang dingin antara AS dan Uni Soviet. Masyarakat gelombang ketiga bisa disebut sebagai masyarakat setelah industri (post industri) dengan berbagai kemajuan ilmu pengetahuan yang lebih menitikberatkan pada nilai informasi sebagai tulang punggung dalam kehidupan masyarakat secara umum. Karakteristik masyarakat post industri adalah semua aspek kehidupan sangat tergantung pada nilai dan keabsahan informasi sebagai sarana untuk pengambilan keputusan. Kondisi ini tercipta karena perubahan paradigma dan adaptasi perkembangan masyarakat yang berkembang secara dimamis mengikuti pola pengetahuan dan terciptanya teknologi baru yang memungkinkan peningkatan kualitas hidup masyarakat menjadi lebih baik dan bernilai. Masyarakat post industri lebih tepat disebut sebagai masyarakat informasi yang sering dikaitkan dengan masyarakat berbasis teknologi, namun teknologi bukan merupakan satu-satunya komponen. Masyarakat informasi berbasis teknologi, politik, ekonomi, sosial, pasar, hukum, sehingga batasan masyarakat informasi tidak harus sama antara satu masyarakat dengan masyarakat lain. Apa yang diperlukan pada masyarakat informasi ialah informasi yang lebih baik, lebih rinci dan lebih tersedia atau lebih gampang diakses bagi anggota masyarakat (Sulistyo-Basuki, 2014).

   Gelombang sosial budaya merubah struktur kehidupan masyarakat dari masyarakat agraris, masyarakat industri dan masyarakat informasi yang lebih menitikberatkan pada keabsahan dan nilai informasi sebagai tujuan utamanya. Representasi dari masyarakat informasi yang secara nyata ada dalam keseharian adalah penggunaan perangkat teknologi mobile yang sudah jamak dilakukan. Gateway, browsing, chatting, video call, media sosial menjadi keseharian masyarakat. Teknologi informasi dan internet menjadi bagian hidup tak terpisahkan yang menjadi komponen utama masyarakat. Dalam berbagai kacamata perubahan masyarakat kearah masyarakat informasi, selalu dikaitkan dengan proses pembelajaran, penciptaan, pengolahan dan penyebaran pengetahuan sebagai unsur utama yang berkolaborasi dengan teknologi informasi. Apabila dikaitkan dengan perpustakaan maka proses penciptaan dan desiminasi pengetahuan yang berguna bagi konsumsi masyarakat informasi merupakan kewenangan dan tugas dari perpustakaan. Fungsi perpustakaan saat ini sebagai information center, penyedia layanan informasi, manajemen pengetahuan, dan learning center yang terus berkembang seiring dengan perkembangan terknologi internet baik dari segi infrastruktur ataupun teknologi search engine. Profil pustakawan tidak lagi sebatas sebagai ‘penjaga buku’ yang hanya menunggu masyarakat memanfaatkan perpustakaan, tetapi berkembang sebagai ‘pekerja pengetahuan’ karena pada dasarnya masyarakat yang dilayani oleh perpustakan telah berkembang sebagai masyarakat berpengetahuan dengan nilai informasi yang absah sebagai hal yang utama.

   Secara nyata gambaran masyarakat berpengetahuan terlihat dari generasi remaja yang disebut sebagai digital native yang berperilaku berbeda dengan generasi sebelumnya dan bahkan menimbulkan rivalitas antara perpustakaan dan pustakawan. Karakteristik yang berbeda dengan generasi-generasi sebelumnya yang lebih mengutamakan teknologi internet dalam berinteraksi dengan siapapun. Mereka lahir setelah tahun 1980 ketika teknologi digital seperti internet dan media komunikasi online sudah ada. Mereka memiliki keahlian akses berjejaring dengan teknologi digital yang mereka gunakan (Palfrey, 2008). Generasi yang lahir dari serbuan budaya elektronik televisi dan internet yang berbeda dengan budaya tekstual generasi sebelumnya. Ibrahim (2007) menyebutnya sebagai generasi visual atau ‘generasi V’ yang sejak lahir, dibesarkan dan diasuh diantara narasi visual yang sangat berbeda dengan dengan budaya tekstual yang diperoleh dari budaya baca. Generasi visual menjadikan hiburan dan menonton televisi sebagai panglima dan waktu luang serta waktu bermain mereka tersita sebagian besar dihadapan televisi. Tidak mengherankan kemudian gaya hidup generasi ini menjadi identitas yang mencerminkan perubahan yang berbeda dengan karakteristik generasi sebelumnya, bahkan seringkali menjadi bahan perdebatan yang menimbulkan ‘kompromi’ dalam pranata sosial masyarakat. Fenomena penggunaan internet dan televisi menjadi contoh nyata bagaimana generasi visual diakomodasi oleh MTV sebagai bagian program unggulan yang digandrungi oleh masyarakat. Produk industri budaya massa yang selanjutnya melahirkan generasi MTV karena kegandrungan generasi ini pada acara tontonan yang ditayangkan lewat video music atau hiburan di MTV.

            Gaya hidup, simulasi dan budaya tanda teknologi informasi memunculkan sejumlah pertanyaan tentang eksistensi perpustakaan dalam pranata sosial masyarakat informasi. Apakah masyarakat informasi dibentuk oleh perpustakaan, ataukah sebaliknya eksistensi perpustakaan akan ‘termarjinalkan’ oleh hiruk-pikuk perkembangan teknologi informasi?. Dilema perpustakaan dalam kultur masyarakat informasi adalah ‘klaim’ perpustakaan yang menyebutkan bahwa perpustakaan memiliki peran yang utama dalam pranata sosial masyarakat informasi. Masyarakat informasi dibentuk oleh peran perpustakaan dalam menyajikan dan memproduksi informasi terseleksi yang digunakan oleh masyarakat, namun dengan argumentasi bahwa masyarakat informasi merupakan masyarakat ‘pembelajar’ apakah peran perpustakaan masih diperlukan? Dalam logika informasi masyarakat, informasi yang didapatkan merupakan pengetahuan yang digunakan untuk melaksanakan strategi dalam upaya pengambilan keputusan. Kondisi ini memicu masyarakat informasi yang berpengetahuan berdasarkan tindakan yang digunakan sebagai kaidah perilaku untuk bertindak dalam melaksanakan inovasi untuk memenangkan persaingan. Cara mendapatkan informasi pengetahuan pun semakin spesifik dengan berbagai macam pilihan sumber-sumber informasi global yang tidak memerlukan administrasi yang berbelit dan bersifat real time kapanpun dimanapun.

Dengan demikian maka secara kelembagaan dan direncanakan sebaik mungkin oleh perpustakaan yang dituangkan dalam kebijakan menghadapi generasi MTV, sudah seharusnya perpustakaan berubah cara pandannya dalam ‘melayani’ generasi MTV yang memiliki karakeristik berbeda dengan generasi-generasi sebelumnya yang bersifat tekstual. Satu hal yang harus diketahui oleh pustakawan dan perpustakaan bahwa net generation, digital native, generasi V, generasi MTV memiliki sifat yang berbeda dengan generasi seselumnya, mereka belajar, bekerja, menulis dan berinteraksi dengan komunitasnya, bahkan terkadang berinteraksi dengan pihak luar komunitas dalam perkembangan kehidupannya. Mereka sangat tertarik dengan media online, berjejaring dengan berbagai macam budaya, berinteraksi sosial, berteman, beraktifitas dengan mengandalkan teknologi digital.

Net Generation
Kuatnya pengaruh penggunaan teknologi informasi dan internet dan kemampuan ilmu pengetahuan merubah struktur pranata sosial masyarakat berdampak pada lahirnya generasi internet, digital native, generasi visual yang lahir pada saat teknologi digital sudah ada dalam kehidupannya. Bagi perpustakaan pun adaptasi layanan dan transisi perubahan wajib dilaksanakan untuk mengakomodasi kebutuhan generasi internet. Amanat UU Perpustakaan No 43 tahun 2007 menjelaskan bahwa koleksi perpustakaan diseleksi, diolah, disimpan, dilayankan, dan dikembangkan sesuai dengan kepentingan pemustaka dengan memperhatikan perkembangan teknologi informasi dan komunikasi. Sedangkan dari aspek layanan perpustakaan, bahwa setiap perpustakaan mengembangkan layanan perpustakaan sesuai dengan kemajuan teknologi informasi dan komunikasi. Layanan perpustakaan dengan basis teknologi informasi dan komunikasi merupakan kewajiban bagi perpustakaan yang sejalan dengan perkembagan ilmu pengetahuan yang semakin kompleks dan menuntut kreatifitas mencari rujukan ilmu pengetahuan yang didapatkan dari internet. Kolaborasi ini selaras dengan sifat net generation yang selalu berinteraksi dengan perangkat teknologi informasi. Komunitas dunia maya yang memiliki sifat dinamis dan menjadi aktor membangun interaksi aktif dan memanfaatkan internet merupakan ciri dari net generation. Net generation bukanlah sekelompok remaja urban atau generasi muda yang muncul begitu saja karena perkembangan zaman, melainkan kemunculannya sangat terkait dengan inovasi dan perkembangan mutakhir teknologi, terutama teknologi informasi dan komunikasi (Sugihartati, 2014). Kehadiran net generation didahului oleh generasi sebelumnya yang memiliki karakteristik yang khas yang berbeda dengan net generation, namun tetap berkaitan dengan perkembangan teknologi informasi. Berbeda dengan generasi sebelumnya yang umumnya gagap teknologi dan tidak mengenal media baru seperti handphone dan perangkat teknologi informasi yang lain, generasi muda yang muncul setelah tahun 1946 – an umumnya telah terbiasa hidup dalam pengaruh televisi yang ketika itu merupakan lompatan besar dalam perkembangan industri budaya dan teknologi informasi.

Secara garis besar pengelompokkan munculnya generasi sebelum lahir hingga adanya net generation sebagai berikut: pertama, the baby boom (1946-1964). The baby boom merupakan generasi yang lahir antara tahun 1946-1964 dan sering pula disebut a baby boomer. Berbeda dengan generasi sebelumnya yang terlibat langsung dengan pengalaman perang dan terbiasa mendengar bahkan menjadi bagian dari cerita dramatis perjuangan merebut kemerdekaan dan kebangsaan, generasi baby boom lahir dan tumbuh dalam suasana sosial politik yang lebih tenang, memiliki semangat memberontak, larut dalam pengaruh gaya hidup bohemian, bahkan tak sedikit yang membenci peperangan. The baby boom disebut-sebut merupakan generasi TV karena mereka hidup dalam masa ketika penyebaran dan pengaruh televisi benar-benar luar biasa sebagai bagian dari produk industri budaya. Kedua, generasi X – the baby bust (1965-1976). Generasi X tumbuh dalam iklim persaingan global yang semakin ketat dan menyadari arti penting pendidikan, sehingga sebagian besar generasi ini umumnya memiliki latar belakang yang lebih baik dan menghargai pendidikan sebagai modal sosial yang penting untuk menyongsong masa depan mereka. Ketiga, net generation atau generasi Y (millennial) (1977-1997). Generasi ini dilahirkan antara tahun 1977-1997 dan disebut juga sebagai net generation atau generasi Y atau millennial karena mereka tumbuh ditengah perkembangan dan kecanggihan teknologi informasi dan internet (Tapscot, 2009).

Berbeda dengan generasi sebelumnya yang lebih banyak terpesona pada narasi tekstual, net generation tumbuh dan berkembang dalam lingkungan sosial dan kebiasaan sejak awal yang telah akrab dengan internet. Lebih lanjut tentang karakteristik generasi millenial dapat dijelaskan memiliki sifat yang meliputi: freedom, customization, scrutiny, integrity, collaboration, entertainment, speed dan innovation. Freedom, merupakan karakteristik yang berkaitan dengan pemahaman bahwa internet telah memberikan kebebasan untuk memilih apa yang hendak dilakukan, apa yang dibeli, dimana hendak bekerja. Net generation umumnya memiliki dan menuntut kebebasan untuk selalu memilih berbagai alternatif yang tersedia. Customization, memberikan pengertian bahwa net generation umumnya adalah konsumen yang aktif dan acap kali bisa memperoleh suatu hal dengan berbagai penyesuaian untuk menjadi miliknya. Scrutiny, yakni karakteristik yang berkaitan dengan sikap kritis. Akses terbuka terhadap internet memungkinkan net generation menggali berbagai sumber informasi dan memiliki pandangan alternatif dalam berbagai pilihan. Integrity dapat diartikan sebagai penghasil informasi yang benar. Collaboration, merupakan karekteristik yang memberi pemahaman bahwa net generation umumnya memiliki insting alami untuk terus berkolaborasi dan berinovasi karena interaksi online yang mereka kembangkan. Entertainment, memberikan pemahaman bahwa net generation memiliki banyak kesempatan untuk menyenangkan diri mereka secara online. Internet memberikan pilihan yang menyenangkan yang bersifat up to date kapanpun dan dimanapun. Speed, merupakan karakteristik net generation yang memuja kecepatan. Bagi mereka kecepatan merupakan idiom penting yang menandai kehidupan sehari-hari. Innovation, memberikan pemahaman bahwa net generation dibesarkan pada lingkungan dan budaya penemuan inovasi yang serba dinamis. Ide-ide baru merupakan produk budaya dalam menjalankan aktivitas sehari-hari mereka.

Meskipun memiliki sifat dan karakter yang berbeda dengan generasi sebelumnya, tetapi net generation bukanlah generasi yang sepenuhnya ‘sendiri’. Peran pustakawan menjadi mitra utama dalam membimbing mereka mendapatkan dan menggunakan informasi yang benar-benar berguna bagi kehidupan net generation. Dengan memahami sifat dan karekteristik net generation sebagai pemustaka yang dilayani oleh perpustakaan, maka perpustakaan berkewajiban memberikan layanan maksimal dengan perubahan yang akomodatif baik dari sifat kelembagaan perpustakaan dan cara pandang pustakawan dalam memberikan layanan kepada net generation. Salah satu perubahan transisi yang bersifat akomodatif adalah memandang net generation bukanlah ancaman bagi kelangsungan layanan perpustakaan, tetapi memberikan pemahaman dan sekaligus partner bagaimana perpustakaan menyediakan informasi yang benar-benar dibutuhkan oleh mereka, pustakawan memberikan bimbingan melalui kegiatan literasi informasi dan penerapan konsep manajemen pengetahuan di perpustakaan. Keabsahan dan nilai informasi yang dimiliki oleh perpustakaan menjadi jawaban dalam mengakomodasi kebutuhan net generation.

Transisi Perpustakaan sebagai Gaya Hidup
Karakteristik pemustaka net generation memiliki perbedaan dengan generasi-generasi sebelumnya. Perubahan cara pandang perpustakaan akan pemustaka yang dilayani menjadi keharusan untuk memberikan layanan maksimal kepada pemusta perpustakaan. Setidaknya perpustakaan memerlukan konsep perubahan yang meliputi pertama, perpustakaan harus bersikap akomodatif terhadap net generation dengan memberikan fasilitas layanan yang mendukung ‘gaya hidup’ net generation. Konsep learning commons yang disesuaikan dengan kebutuhan net generation menjadi syarat utama layanan perpustakaan. Penyediaan sarana prasarana yang representativ, koneksi internet sebagai sarana berjejaring, tersedianya prasarana untuk bersantai dan berleha-leha untuk diskusi, penambahan ruang belajar dengan sarana teknologi informasi yang lengkap. Kedua menyediakan koleksi bahan perpustakaan yang bersifat interaktif, multimedia dan dapat digunakan secara bersama-sama. Net generation  tidak begitu memperdulikan koleksi dalam bentuk teks karena informasi yang didapatkan dengan cara koneksi dengan internet dengan menggunakan mesin pencari, oleh karena itu perpustakaan perlu mengembagkan layanan multimedia dalam berbagai jenis koleksi perpustakaan baik yang bersifat online dan yang bersifat offline.

Ketiga adalah aturan kebijakan perpustakaan yang harus dirubah dalam menghadapi net generation, aturan tersebut dirubah tetapi dengan berpedoman pada penghargaan dan sangsi yang harus ditegakkan, dalam arti bahwa net generation bukan generasi yang ‘termarjinalkan’ karena bertingkah laku menghilangkan budaya tinggi sebagai aturan baku, tetapi net generation pun harus menghormati norma yang sudah dibangun oleh lembaga perpustakaan. Keempat pustakawan harus beradaptasi dengan perkembangan ‘gaya hidup’ net generation  yang memandang bahwa perpustakaan adalah bagian dari gaya hidup dalam mendapatkan pengetahuan dan akses informasi. Pustakawan tidak perlu membatasi diri dan bersifat tertutup dengan berbagai sifat dan karakteristik net generation yang memuja kebebasan dalam akses informasi dimanapun dan kapanpun. Seringkali pustakawan merasa risih dengan perilaku pemustaka net generation yang menggunakan perpustakaan. Bagi mereka perpustakaan merupakan gaya hidup dan merupakan identitas budaya yang seharusnya dimaksimalkan untuk menciptakan ekosistem ilmu pengetahuan.

Kelima adalah bagaimana membangun konsep dialektika antara pustakawan dan net generation  dengan memanfaatkan kegiatan bersama berupa kegiatan literasi informasi yang dilaksanakan secara periodik. Literasi informasi dilaksanakan untuk memberikan bimbingan dan pembelajaran bagaimana mendapatkan sumber-sumber informasi yang cepat, tepat dan efisien. Meskipun karekterisik net generation  yang selalu berjejaring dan terkoneksi internet, namun peran pustakawan diperlukan dalam memberikan bimbingan bagaimana mencari, mendapatkan, menyaring informasi yang benar, menggunakan dan mendapatkan informasi yang bernilai. Keenam adalah adanya kegiatan promosi dan sosialisasi layanan perpustakaan yang bersifat interaktif menggunakan teknologi web tentang jenis-jenis layanan perpustakaan dan produk informasi yang diproduksi oleh perpustakaan. Teknologi web perpustakaan menjadi jendela utama dalam akses informasi generasi internet sekaligus sebagai sarana interaksi ilmu pengetahuan yang benar-benar berguna bagi mereka.

Penutup
   Kedatangan genarasi internet yang menggunakan layanan perpustakaan tidak perlu dianggap sebagai sumber ancaman bagi eksistensi perpustakaan. Generasi yang lahir dari perkembangan masyarakat dengan tulang punggung ilmu pengetahuan dan teknologi yang menyertainya. Generasi internet merupakan produk dari masyarakat informasi yang memiliki ciri utama informasi merupakan nilai dan sumber pranata sosial masyarakat yang sangat diutamakan untuk proses pengambilan keputusan. Perpustakaan berkewajiban mengakomodasi kebutuhan-kebutuhan informasi generasi internet meskipun secara tekstual terdapat pertentangan antara perpustakaan dan generasi internet.

Kewajiban perpustakaan adalah menjalankan transisi transformatif mengikuti pola perkembangan generasi internet yang bersifat independent dan memandang perpustakaan adalah sebagai gaya hidup. Oleh karena itu sudah sewajarnya generasi internet ‘mengakomodasi’ perpustakaan sebagai ‘gaya hidup’ generasi internet dan juga sebaliknya merupakan kewajiban perpustakaan memandang generasi internet sebagai pemustaka perpustakaan yang harus dilayani bukan ‘dimarjinalkan’ karena berbeda dengan generasi tekstual yang memuja proses dialektika antara teks dengan pemustaka. Transisi transformasi perpustakaan adalah kemauan mengakomodasi perubahan sifat generasi yang berbeda dengan generasi sebelumnya, dengan demikian sudah selayaknya perpustakaan merupakan ‘gaya hidup bagi generasi internet’, tidak saja pemujaan pada acara video musik di televisi dengan MTV yang menjadi fenomena, namun perpustakaan pun dipuja sebagai bagian dari ‘gaya hidup’ generasi internet. Digital native, generasi internet, generasi visual adalah generasi perpustakaan sebagai ‘lifestyle of library’.




Referensi

Featherstone, Mike. 2008. Postmodernisme dan Budaya Konsumen. Yogyakarta: Pustaka Pelajar.

Ibrahim, Idy Subandy. 2007. Budaya Populer Sebagai Komunikasi; Dinamika Popscape dan Mediascape di Indonesia Kontemporer. Yogyakarta: Jalasutra.

Laksmi. 2012. Interaksi, Interpretasi, dan Makna; Pengantar Analisis Mikro untuk Penelitian di Bidang Ilmu Informasi dan Ilmu Terapan Lainnya. Bandung: Karya Putra Darwati.

Nurochman, Arif. Telaah Sosial Kontemporer Masyarakat Informasi; Perspektif Perpustakaan Perguruan Tinggi. Media Pustakawan. Vol. 23 No. 2 Tahun 2016

Palfrey, John and Urs Gasser. 2008. Born Digital; Understanding The First Generation of Digital Natives. New York: Basic Book.

Piliang, Yasraf Amir. 2011. Dunia Yang Dilipat; Tamasya Melampaui Batas-batas Kebudayaan. Bandung: Matahari.

Ritzer, George dan Dauglas J.Goodman. 2007. Teori Sosiologi Modern. Jakarta: Kencana Prenada Media Group

Tapscot, Don. 2009. Grown Up Digital. How the Net Generation is Changing Your World. New York: Mc.Graw Hill.

Sugihartati, Rahma. 2014.  Perkembangan Masyarakat Informasi dan Teori Sosial Kontemporer. Jakarta: Kencana

Sulistyo-Basuki. 2014. Senerai Pemikiran Sulistyo-Basuki: Profesor Pertama Ilmu Perpustakaan dan Informasi di Indonesia. Jakarta: ISIPII.

Toffler, Alvin. 1980. The Third Wave. New York: Bantam Book.

Undang-Undang Nomor 43 Tahun 2007 tentang Perpustakaan.



Kamis, 03 Desember 2015

Telaah Sosial Kontemporer Masyarakat Informasi; Perpekstif Perpustakaan Perguruan Tinggi


Dipublikasikan di Media Pustakawan Perpusnas Juli 2016

Pendahuluan
Perpustakaan dalam perkembangannya selalu diidentikkan dengan perkembangan pola penerapan ilmu pengetahuan dan teknologi masyarakat. Library is growing organism menjadi gambaran nyata bahwa perpustakaan tidak lagi dipandang sebagai lembaga an sich yang didalamnya terdapat sekumpulan buku yang tertata rapi di rak dengan sistem yang baku yang dilayankan kepada pemustaka. Perpustakaan telah berkembang mengikuti pola peradaban masyarakat yang menyangkut aspek sosial dan pengetahuan. Perpustakaan dan pusat informasi pengetahuan merupakan komponen yang serasi untuk menggambarkan kemajuan peradaban karena dimulai dari bagaimana akses informasi dan distribusi informasi yang disebarkan oleh perpustakaan. Perubahan sosial budaya masyarakat menjadi kajian seorang tokoh futurolog Alvin Toffler (1980) yang menyatakan bahwa perkembangan masyarakat dikategorikan dalam tiga gelombang yang dimulai dari gelombang pertama sebagai masyarakat pertanian (agraris), gelombang kedua masyarakat industri dan gelombang ketiga pada kondisi setelah era runtuhnya perang dingin antara AS dan Uni Soviet.
Masyarakat gelombang ketiga bisa disebut sebagai masyarakat informasi dengan berbagai kemajuan ilmu pengetahuan yang lebih menitikberatkan pada nilai informasi sebagai tulang punggung dalam kehidupan masyarakat secara umum. Masyarakat informasi merupakan masyarakat yang semua aspek kehidupan sangat tergantung pada nilai dan keabsahan informasi sebagai sarana untuk pengambilan keputusan. Kondisi ini tercipta karena perubahan paradigma dan adaptasi perkembangan masyarakat yang berkembang secara dimamis mengikuti pola pengetahuan dan terciptanya teknologi baru yang memungkinkan peningkatan kualitas hidup masyarakat menjadi lebih baik dan bernilai. Masyarakat informasi sering dikaitkan dengan masyarakat berbasis teknologi, namun teknologi bukan merupakan satu-satunya komponen. Masyarakat informasi berbasis teknologi, politik, ekonomi, sosial, pasar, hukum, sehingga batasan masyarakat informasi tidak harus sama antara satu masyarakat dengan masyarakat lain. Apa yang diperlukan pada masyarakat informasi ialah informasi yang lebih baik, lebih rinci dan lebih tersedia atau lebih gampang diakses bagi anggota masyarakat (Sulistyo-Basuki,2014).
Berbagai macam indikator yang menciptakan masyarakat informasi secara nyata terlihat dari tren perkembangan teknologi informasi yang dikonsumsi oleh masyarakat. Teknologi mobile, sarana internet, media komunikasi, media sosial menjadi kebutuhuan standar masyarakat informasi dalam kesehariannya. Browsing, chatting, video chat, surfing, blog, email, tweet menjadi istilah standar dalam berkomunikasi dan menemukan informasi. Casstells dalam Ritzer (2007) memaknai paradigma teknologi informasi dengan karakteristik dasar yang meliputi; Pertama, teknologi informasi adalah teknologi yang bereaksi berdasarkan informasi. Kedua, informasi adalah bagian dari aktivitas manusia, teknologi-teknologi ini mempunyai efek pervasive. Ketiga, semua sistem yang menggunakan teknologi informasi didefinisikan oleh logika jaringan yang membuatnya bisa mempengaruhi berbagai proses dan organisasi. Keempat, teknologi baru sangatlah fleksibel, membuatnya bisa beradaptasi dan berubah secara konstan. Kelima, teknologi spesifik yang diasosiasikan dengan informasi berpadu dengan sistem yang terintegrasi. Paradigma teknologi informasi tersebut menjadi keseharian yang sudah jamak dalam kehidupan masyarakat, bahkan ada anggapan di masyarakat apabila tidak menggunakan sarana teknologi informasi maka dianggap sebagai golongan kuno.
Berbagai aspek penggunaan teknologi informasi bergulir begitu cepat mengukuti pola perkembangan masyarakat. Fenomena yang secara kasat mata terlihat adalah makin meningkatnya percepatan penggunaan perangkat teknologi informasi dengan tulang punggung kecepatan akses dan kecepatan teknologi yang menyertainya. Masyarakat dihadapkan pada pilihan apakah mengikuti perkembangan tersebut atau keluar dari pusaran percepatan tren penggunaan teknologi. Jika sudah demikian, maka kondisi sosial masyarakat menjadikan segala sesuatu menjadi komoditas yang harus dikonsumsi oleh masyarakat. Maka tidak mengherankan kemudian memunculkan struktur sosial ‘masyarakat konsumsi’ dengan asas kecepatan (velocity) sebagai tulang punggungnya. Fenomena masyarakat informasi sejatinya merupakan pola perubahan adaptif masyarakat dalam memaknai perkembangan yang sedang terjadi sesuai dengan kemampuan menerapkan ilmu pengetahuan yang diyakini dapat memberikan perubahan pada masyarakat.
Dalam berbagai perspektif perubahan masyarakat kearah masyarakat informasi selalu dikaitkan dengan proses pembelajaran dan penciptaan, pengelolaan dan penyebaran pengetahuan sebagai unsur utama dengan berkolaborasi dengan perangkat teknologi yang umumnya disebut sebagai teknologi informasi. Apabila dikaitkan dengan perpustakaan khususnya perpustakaan perguruan tinggi, maka proses penyebaran pengetahuan yang berguna bagi konsumsi masyarakat informasi merupakan kewenangan dan tugas bagi perpustakaan. Idealnya perpustakaan ditempatkan sebagai lembaga pengolah dan penyebar informasi yang benar-benar berguna bagi masyarakat informasi untuk mengambil keputusan, akan tetapi fungsi dan kewenangan tersebut tidak sepenuhnya dilaksanakan oleh perpustakaan. Gambaran nyata yang sering terjadi dimasyarakat sekarang ini adalah bahwa dengan peralatan gadget digenggaman tangan pun berbagai macam informasi aktual segera didapatkan, tidak perlu lagi mendatangi perpustakaan yang notabene sebagai pusat informasi dalam masyarakat informasi.
Dengan adanya indikator tersebut memunculkan pertanyaan dan perenungan benarkah kondisi sekarang dengan adanya penetrasi penggunaan teknologi informasi yang merubah semua lini kehidupan berpengaruh bagi eksistensi perpustakaan? Mengapa perpustakaan seolah tidak berdaya dalam mengakomodasi kebutuhan-kebutuhan masyarakat informasi yang memerlukan kecepatan dan keakuratan sebagai gaya hidupnya? Benarkan budaya cyber telah mengambil alih perpustakaan perguruan tinggi dalam melayani civitas akademika dalam tatanan masyarakat informasi? Ataukah benar peran perpustakaan sangat dominan dalam membentuk karakter pengetahuan masyarakat informasi secara umum?

Budaya Tanda Teknologi Informasi
Permasalahan kuatnya penetrasi penggunaan teknologi informasi yang terjadi dimasyarakat membawa perubahan fundamental bagi layanan perpustakaan perguruan tinggi yang memandang bahwa perpustakaan masih diakui sebagai lembaga penyaji dan penyedia informasi. Asumsi ini bersifat ‘klasik’ karena tuntutan perubahan tersebut terjadi karena adanya ‘persaingan’ antara perpustakaan dengan teknologi jaringan global berupa internet yang memiliki ‘klaim’ tentang ketepatan dan kecepatan dalam mendapatkan informasi. Pustakawan pun mempuyai peluang sebagai penyaji dan penyedia informasi (information provider) yang benar-benar memiliki nilai bagi masyarakat informasi dengan klaim membanjirnya informasi diberbagai bidang yang apabila diproses dan digolongkan ternyata memiliki efek ‘informasi sampah’ yang tidak tepat digunakan oleh masyarakat. Pustakawan berkedudukan sebagai penambah nilai informasi yang benar-benar dibutuhkan oleh civitas akademika dan masyarakat informasi secara umum. Namun disaat yang sama besarnya informasi yang tersedia dan kecepatan informasi yang berganti dari hari kehari tidak dapat diantisipasi oleh perpustakaan dalam menelaah informasi yang benar-benar dibutuhkan oleh masyarakat, dan akhirnya masyarakat pun tidak lagi ‘berkomunikasi’ dengan perpustakaan karena kecepatan dan keakuratan informasi tidak memerlukan proses yang rumit seperti dalam perpustakaan.
Informasi bisa didapatkan kapan saja dan dimana saja, berjejaring dan informasi mobile pun dapat dilaksanakan tanpa batas ruang dan waktu. Apabila mengandalkan informasi dari perpustakaan yang didapatkan hanya ‘informasi teks’ yang tidak fleksibel, namun dengan gadget yang memiliki fitur jaringan global bukan lagi persoalan mendapatkan informasi dari manapun. Komodifikasi tanda dan penetrasi iklan berkolaborasi dengan kecepatan untuk menciptakan tren dan produk baru yang diinginkan oleh kemampuan konsumsi masyarakat informasi menambah ‘persaingan’ antara perpustakaan dan sumber informasi global. Kapitalis memproduksi barang konsumsi bukan untuk memenuhi kebutuhan dasarnya, tetapi untuk memenuhi ‘hasrat’ konsumsi untuk pemenuhan citra, prestise dan gaya hidup. Dalam perkembangan berikutnya komodifikasi tanda yang menyertai kehidupan masyarakat informasi tidak dapat dilepaskan dari proses perkembangan masyarakat yang dapat dianalisa dengan menggunakan perspektif ilmu sosiologi tentang istilah masyarakat informasi dengan berbagai ‘tanda wacana’ dan indikator yang menyertainya.
Lyotard memberikan asumsi bahwa kondisi masyarakat sekarang berada pada kondisi ‘sesudah’ era industri yang apabila kita telusur bahwa perkembangan masyarakat dimulai dari era kegelapan, renaissance dan era revolusi industri. Memang asumsi ini didasarkan pada kondisi masyarakat eropa pada saat itu, namun kondisi sekarang ini masyarakat dihadapkan pada kondisi riil tentang adanya perubahan budaya kearah era ‘post industri’. Lebih lanjut lyotard menjelaskan bahwa ketertarikan membicarakan masyarakat postmodern adalah pengaruh efek-efek khusus dari ‘komputerisasi masyarakat’ atas pengetahuan dan dia berpendapat bahwa hilangnya makna dalam postmodern tidak boleh ditangisi karena hal ini berarti penggantian pengetahuan naratif oleh pluralitas permainan bahasa dan universalisme oleh lokalisme (Featherstone, 2008). Bahwa produksi industri tidak semata-mata untuk memenuhi kebutuhan konsumsi masyarakat seperti halnya dalam era industri, tetapi kondisi sekarang ini produksi lebih menekankan pada aspek ‘gaya hidup’, kecepatan yang mengaburkan makna konsumsi itu sendiri. Produksi alat-alat konsumsi yang dihasilkan oleh ‘kapitalis produksi’ mengaburkan makna relasi produksi dan konsumsi hanya semata-mata untuk menciptakan ‘hasrat kecepatan’, seperti terlihat dalam penggunaan sarana teknologi komputer hanya sebatas untuk pemenuhan gaya hidup yang berasaskan kecepatan. Lyotard tertarik dengan fenomena perubahan sosial budaya masyarakat diera penggunaan komputer dan teknologi informasi. Sedangkan Baudlillard menekankan bahwa bentuk-bentuk teknologi dan informasi baru menjadi pusat perubahan dari tatanan sosial yang reproduktif, dimana berbagai simulasi dan model semakin melanda dunia sehingga perbedaan antara yang nyata dengan yang tampak menjadi kabur. Ketika tatanan sosial diibaratkan sebagai sebuah simulasi dengan berbagai kecepatan teknologi yang menyertainya produksi teknologi menjadi ‘gaya hidup’ yang akhirnya memunculkan tatanan sosial baru berupa masyarakat konsumsi yang menghilangkan makna logika produksi sebagai alat pemenuhan kebutuhan konsumsi yang sewajarnya. Konsumsi dilakukan secara ‘besar-besaran’ yang hanya dilaksanakan untuk memenuhi kebutuhan ‘hasrat’ gaya hidup masyarakat, maka tidak mengherankan kemudian Baulldilard menyebutnya sebagai ‘simulasi’ gaya hidup yang mengaburkan logika dan makna sesungguhnya.
Membicarakan budaya tanda masyarakat informasi tidak akan lepas dari pola perkembangan masyarakat modern ke arah masyarakat postmodern dengan berbagai macam perspektif yang dapat menganalisa perkembangan tersebut. Dengan budaya tanda tersebut dapat memberikan pemahaman bagi kita bahwa kondisi riil masyarakat sekarang masuk dalam perkembangan masyarakat postmodern atau masyarakat sesudah modern, bahkan ada yang menyebutkan sebagai masyarakat informasi tergantung dari perspektif analisa yang digunakan dalam mengkaji permasalahan tersebut.
Dalam bidang perpustakaan tentunya akan lebih familier dengan menyebutnya sebagai masyarakat informasi karena memiliki korelasi dengan perkembangan pola kehidupan intelektualitas dan pembelajaran mandiri masyarakat dalam memproduksi, mengolah, menyajikan dan menyebarkan informasi pengetahuan kepada masyarakat. Namun budaya tanda teknologi informasi tersebut merupakan tantangan bagi perpustakaan di era membanjirnya informasi global dimanapun dan kapanpun.

Arti Penting Perpustakaan Perguruan Tinggi
Gaya hidup, simulasi dan budaya tanda teknologi informasi memunculkan sejumlah pertanyaan tentang eksistensi perpustakaan dalam pranata sosial masyarakat informasi khususnya perpustakaan perguruan tinggi. Apakah masyarakat informasi dibentuk oleh perpustakaan, ataukah sebaliknya eksistensi perpustakaan akan ‘termarjinalkan’ oleh hiruk-pikuk perkembangan teknologi informasi?. Dilema perpustakaan dalam kultur masyarakat informasi adalah ‘klaim’ perpustakaan yang menyebutkan bahwa perpustakaan memiliki peran yang utama dalam pranata sosial masyarakat informasi. Masyarakat informasi dibentuk oleh peran perpustakaan dalam menyajikan dan memproduksi informasi terseleksi yang digunakan oleh masyarakat, namun argumentasi ini tidak sepenunhya benar karena masyarakat informasi merupakan masyarakat ‘pembelajar’ dengan berbagai macam fasilitas untuk mendapatkan informasi yang begitu beragam dalam mendapatkannya. Dalam logika informasi masyarakat informasi, informasi yang didapatkan merupakan pengetahuan yang digunakan untuk melaksanakan strategi dalam upaya pengambilan keputusan yang digunakan untuk memenangkan persaingan. Kondisi-kondisi ini akhirnya memicu masyarakat informasi yang berpengetahuan berdasarkan tindakan yang digunakan sebagai kaidah perilaku untuk bertindak dalam melaksanakan inovasi untuk memenangkan persaingan. Cara mendapatkan informasi pengetahuan pun semakin spesifik dengan berbagai macam pilihan sumber-sumber informasi global yang tidak memerlukan administrasi yang berbelit dan bersifat real time kapanpun dimanapun.
Dengan demikian tidak salah kemudian memposisikan perpustakaan sebagai lembaga penyaji informasi yang tersisih/termarjinalkan dalam struktur pranata sosial masyarakat informasi dengan berbagai kaidah bahwa penciptaan, pengolahan, pengkomunikasian dan penyebaran informasi tidak melalui lembaga perpustakaan, hanya melalui sumber informasi global yang fleksibel dan cepat. Masalah nilai informasi dan kebsahan informasi yang diklaim oleh perpustakaan sebagai ‘produksi’ perpustakaan pun terbantahkan karena pola pikir masyarakat informasi yang kritis, independent dan berpengetahuan. Perpustakaan hanya sebagai ‘museum informasi’ tanpa mampu berperan dalam struktur sosial masyarakat informasi khususnya civitas akademika perguruan tinggi. Tantangan terbesar perpustakaan perguruan tinggi adalah terdapatnya pemustaka perpustakaan yang disebut sebagai generasi digital atau digital native yang memiliki karakteristik berbeda dengan generasi-generasi sebelumnya. Mereka lahir setelah tahun 1980 ketika teknologi digital seperti internet dan media komunikasi online telah ada. Mereka memiliki keahlian akses berjejaring dalam teknologi digital yang mereka gunakan (Palfrey,2008). Satu hal yang harus diketahui oleh pustakawan dan perpustakaan perguruan tinggi bahwa digital native memiliki sifat yang berbeda, mereka belajar, bekerja, menulis dan berinteraksi dengan komunitasnya, bahkan terkadang berinteraksi dengan pihak luar komunitas dalam perkembangan kehidupannya. Mereka sangat tertarik dengan media online, berjejaring dengan berbagai macam budaya, berinteraksi sosial, berteman, beraktifitas dengan mengandalkan teknologi digital.
Dilema perpustakaan perguruan tinggi dalam era masyarakat informasi dan layanan informasi kepada generasi digital native memberikan perenungan bagaimana seharusnya perpustakaan bermetamorfosa dengan bersifat aplikatif melaksanakan perubahan yang ‘keluar’ dari narasi kemapanan yang selama ini diyakini benar oleh perpustakaan. Metamorfosa perpustakaan ditandai dengan melaksanakan perubahan dan bersifat akomodatif dengan tetap berprinsip pada identitas budaya perpustakaan yang selama ini memberikan ‘kenyamanan’ bagi pemustaka masyarakat informasi. Setidaknya perpustakaan perguruan tinggi memerlukan konsep perubahan yang meliputi pertama, perpustakaan harus bersikap akomodatif terhadap masyarakat informasi utamanya generasi digital native dengan memberikan fasilitas layanan yang mendukung ‘gaya hidup’ digital native. Sikap akomodatif tersebut dapat berupa penambahan fasilitas perpustakaan menggunakan konsep learning commons yang disesuaikan dengan kebutuhan pemustaka generasi digital. Penyediaan sarana prasarana yang representatif, terkoneksi internet 24 jam sebagai sarana berjejaring, tersedianya prasarana untuk bersantai sebagai tempat untuk diskusi, penambahan ruang belajar dengan sarana teknologi informasi yang lengkap. Kedua menyediakan koleksi bahan perpustakaan yang bersifat interaktif, multimedia dan dapat digunakan secara bersama-sama. Digital native tidak begitu memperdulikan koleksi dalam bentuk teks karena informasi yang didapatkan dengan cara koneksi internet menggunakan mesin pencari, oleh karena itu perpustakaan perlu mengembangkan layanan multimedia dalam berbagai jenis koleksi perpustakaan baik yang bersifat online dan yang bersifat offline. Ketiga adalah aturan kebijakan perpustakaan yang harus dirubah dalam menghadapi masyarakat informasi, aturan tersebut dirubah tetapi tetap berpedoman pada penghargaan dan sangsi yang harus ditegakkan, dalam arti bahwa digital native bukan generasi yang ‘termarjinalkan’ karena bertingkah laku menghilangkan budaya tinggi, tetapi mereka pun harus menghormati norma yang sudah dibangun oleh lembaga perpustakaan. Keempat pustakawan harus beradaptasi dengan perkembangan ‘gaya hidup’ masyarakat informasi yang memandang bahwa perpustakaan adalah bagian dari gaya hidup dalam mendapatkan pengetahuan dan akses informasi. Pustakawan tidak perlu membatasi diri dan bersifat tertutup dengan berbagai sifat dan karakteristik digital native yang memuja kebebasan dalam akses informasi dimanapun dan kapanpun. Kelima adalah bagaimana membangun konsep dialektika antara pustakawan dan digital native dengan memanfaatkan kegiatan bersama berupa kegiatan literasi informasi/media yang dilaksanakan secara periodik. Literasi informasi/media dilaksanakan untuk memberikan bimbingan dan pembelajaran bagaimana mendapatkan sumber-sumber informasi yang cepat, tepat dan efisien. Meskipun berkarekterisik yang selalu berjejaring dan terkoneksi internet, namun peran pustakawan diperlukan dalam memberikan bimbingan bagaimana mencari, menggunakan dan mendapatkan informasi yang benar dan dapat dipertanggungjawabkan. Keenam adalah adanya kegiatan promosi dan sosialisasi layanan perpustakaan yang bersifat interaktif menggunakan teknologi web tentang jenis-jenis layanan perpustakaan dan produk informasi yang diproduksi oleh perpustakaan.

Penutup
Tantangan perpustakaan perguruan tinggi dalam struktur pranata sosial masyarakat informasi berkembang dinamis dan harus diantisipasi oleh perpustakaan dengan tindakan yang bersifat akomodatif. ‘Marginalisasi’ perpustakaan akan benar-benar terjadi apabila perpustakaan tidak melaksanakan kegiatan metamorfosa dan keluar dari narasi kemapanan yang selama ini sudah terbangun. Karakteristik masyarakat informasi dengan generasi digital native sebagai aktornya berbeda dengan masyarakat modern yang dilayani oleh perpustakaan. Sumber informasi global dan keabsahan dari nilai informasi dalam kegiatan keseharian masyarakat informasi untuk proses pengambilan keputusan sudah seharusnya menjadi tantangan dan peluang bagi perpustakaan untuk tetap eksis sebagai lembaga penyaji dan pengolah informasi. Marginalisasi dan tantangan perpustakaan di pusaran masyarakat informasi memberikan perenungan bagi perpustakaan untuk memberikan pemahaman baru bahwa perpustakaan masih diperlukan dan harus eksis ditatanan struktur masyarakat informasi. Perpustakaan harus bergerak maju sebagai bagian dari ‘gaya hidup’ masyarakat informasi dengan nilai informasi sebagai bagian terpenting dalam pengambilan keputusan. Ketika nilai informasi sebagai bagain dari gaya hidup, maka tercipta kondisi masyarakat berpengetahuan dengan memanfaatkan sumber-sumber pengetahuan yang memiliki kapabilitas yang dapat dipertanggungjawabkan. Diperlukan lembaga yang memiliki eksistensi dalam menciptakan pengetahuan sebagai gaya hidup masyarakat ini. Lembaga tersebut adalah perpustakaan. Semoga.


Daftar Pustaka

Bryson, Jo. 2006. Managing Information Service; A Transformation Approach. Aldershot Hampshire: Ashgate Publishing Limited.

Featherstone, Mike. 2008. Postmodernisme dan Budaya Konsumen. Yogyakarta: Pustaka Pelajar.

Palfrey, John and Urs Gasser. 2008. Born Digital; Understanding The First Generation of Digital Natives. New York: Basic Book.

Ritzer, George dan Dauglas J.Goodman. 2007. Teori Sosiologi Modern. Jakarta: Kencana Prenada Media Group.

Ritzer, George dan Barry Smart. 2012. Handbook Teori Sosial. Jakarta: Nusa Media.

Sugihartati, Rahma. 2014. Perkembangan Masyarakat Informasi dan Teori Sosial Kontemporer. Jakarta: Kencana.

Sulistyo-Basuki. 2014. Senerai Pemikiran Sulistyo-Basuki: Profesor Pertama Ilmu Perpustakaan dan Informasi di Indonesia. Jakarta: ISIPII.

Sutrisno, Mudji dan Hendar Putranto (ed). 2005. Teori-teori Kebudayaan. Yogyakarta: Kanisius.

Toffler, Alvin.1980. The Third Wave. New York: Bantam Book

LIBRARY STYLE NET GENERATION

  Perkembangan sosial budaya masyarakat ditandai dengan penciptaan, pemrosesan dan desiminasi informasi yang menghasilkan ilmu penge...