Translate

Kamis, 03 Desember 2015

STRATEGI PENELUSURAN E- RESOURCES



Bahan knowledge sharing dengan Pustakawan Perpustakaan Yakpermas, Banyumas   

Pendahuluan
Internet dan koleksi digital menyediakan berbagai macam akses informasi yang dapat ditelusur kapan pun dan dimanapun. Bahkan saat ini berkembang ‘ledakan informasi’ atau dengan bahasa yang lain terjadi ‘information overload’ yang perlu disikapi oleh perpustakaan khususnya perpustakaan perguruan tinggi dengan cara baik dan benar. Information overload dalam prakteknya menyajikan “informasi-informasi sampah” yang tidak tahu siapa yang menciptakan dan untuk apa informasi tersebut disajikan. Perpustakaan sebagai lembaga yang memiliki kapabilitas tetang informasi memiliki peran yang strategis dalam menciptakan alur informasi yang berguna bagi pemustaka perpustakaan. Karakteristik pemustaka perguruan tinggi yang selalu up to date dan membutuhkan informasi-informasi aktual yang terbaru, memerlukan peranan pustakawan yang memiliki keahlian dan ketrampilan dalam menelusur berbagai macam sumber-sumber informasi global yang tersedia diinternet. Layanan informasi yang cepat, tepat dan efisien menjadi tantangan bagi pustakawan di perpustakaan perguruan tinggi dalam memberikan informasi yang berguna bagi pemustaka, oleh karena itu diperlukan strategi penelurusan sumber-sumber informasi digital yang tersedia.
Sumber informasi digital yang tersedia diinternet sebagai contohnya adalah mesin pencari google, database e journal yang dilanggan oleh dikti dan e-resources perpustakaan nasional yang dapat diakses oleh siapapun tanpa dipungut biaya. Sumber-sumber informasi digital tersebut dapat dijadikan referensi dalam menelusur informasi dan menemukan informasi yang bermanfaat bagi pemustaka perpustakaan. Penelusuran informasi merupakan kegiatan menelusur kembali seluruh atau sebagian informasi yang pernah ditulis atau diterbitkan melalui sarana temu kembali informasi yang tersedia. Sedangkan strategi penelusuran adalah penelusuran yang dilakukan secara sistematis (systematic searching) yang meliputi cara-cara bagaimana menggunakan kata kunci (keyword), frase, subjek dokumen, menggunakan logika Boolean serta fasilitas-fasilitas penelusuran lain yang tersedia pada masing-masing search engines. Dengan strategi penelusuran ini diharapkan penelusur (user) dapat menemukan dokumen atau informasi yang diperlukan secara cepat, tepat dan relevan.
Dibawah ini contoh-contoh sumber informasi digital (e-journal) yang dilanggan oleh dikti.
1   1. Masuk di website http://www.akperyakpermas.ac.id
  

        
 
2    2. Klik portal Jurnal

     


3    3.  Klik e journal proquest
    


    
  
       4. Ketik Kata kunci
    


 
 
5      5. Hasil Penelusuran dapat didownload fullteks
    

 
Untuk e-journal yang lain seperti ebsco dan gale prinsipnya sama dengan penelusuran e-journal proquest, begitu juga dengan e-resources yang dilayankan oleh perpustakaan nasional Indonesia. Untuk mengaksesnya harus mendaftar dulu sebagai anggota perpusnas.

E-Resources Perpustakaan Nasional Indonesia
 
Strategi Penelusuran
Banyak tersedia fasilitas pencarian pada search engine, secara umum fasilitas tersebut hampir sama seperti:
·         Logika Boolean (Boolean Logic) And, Or, Not, pada saat menelusur bisa memperluas ataupun memfokuskan dengan menggunakan operator ini.
·         Frasa (phrase search), yaitu penggabungan beberapa kata agar tidak ditelusur secara terpisah oleh mesin pencari.
·         Pemenggalan (truncation), yaitu fasilitas memenggal kata.
·         Pembatasan field, fasilitas ini dipergunakan untuk penelususr yang ingin membatasi format tertentu yang diinginkan misalnya format pdf, ppt, doc, jpg dan lainnya.
·         Langsung ke alamat situs (URL) tertentu yang kita inginkan.
Beberapa contoh pencarian dalam search engine antara lain:
·         “hubungan asam urat”+gorengan
·         “Adnan Buyung” + Golkar site:kompas.com
·         (korupsi or KKN) + “Departemen Agama”filetype:pdf
·         “Keputusan Menteri Agama”+”flu burung”
Penggunaan fasilitas pencarian penelusuran dalam kotak tempat menuliskan kata kunci sebagaimana permintaan informasi (query), sangat tergantung dari masing-masing mesin pencari (search engine). Hampir semua mesin pencari menyediakan fasilitas pencarian yang bertujuan untuk membantu pencari menemukan informasi yang diinginkan secara tepat dan cepat.

Penutup
Berlimpahnya berbagai macam informasi yang tersedia diinternet dapat dimaksimalkan dengan kemampuan menelusur dan strategi penelusuran yang baik dan efektif. Penggunaan dan pemilihan kata kunci yang tepat memudahkan proses pencarian informasi, menemukan informasi yang benar dan kredibel. Strategi penelusuran menggunakan operator Boolean terbukti membantu siapapun dalam proses penelusuran informasi diinternet.

Rabu, 02 Desember 2015

Antisipasi Keamanan Open Access Menggunakan Analisa Social Engineering



Abstrak partisipasi Call for Paper Konfrensi Perpustakaan Digital Indonesia VIII Bogor, Perpusnas RI

Abstrak
Penerapan teknologi informasi di perpustakaan merupakan keharusan untuk menciptakan aliran informasi yang cepat bagi pemustaka. Teknologi web menjadi contoh nyata bagaimana perpustakaan bermetamorfosis melaksanakan kegiatan layanan maksimal untuk akses informasi yang dapat dipertanggungjawabkan. Sifat teknologi web yang mudah diakses dimanapun dan kapanpun menjadi alasan utama perpustakaan memilihnya untuk layanan informasi perpustakaan. Teknologi web memberikan kemudahan dalam hal akses informasi yang disediakan oleh website ataupun pustaka digital. Selain manfaat berupa kecepatan dan kemudahan akses, teknologi web rentan terhadap sabotase serta tindak kejahatan dari berbagai macam ancaman yang mengganggu kelancaran sistem sehingga berdampak pada terhambatnya proses pengambilan keputusan. Keamanan sistem informasi perpustakaan menjadi unsur utama yang perlu diperhatikan untuk mengantisipasi ancaman yang dapat mengganggu akses informasi perpustakaan.
Keamanan sistem informasi perpustakaan yang bersifat terbuka harus memiliki kemampuan perlindungan terhadap tindakan pengaksesan yang tidak berwewenang atau pengaksesan tanpa otoritas. Ancaman keamanan dikategorikan dari ancaman alamiah, teknis dan manusia. Ancaman alamiah disebabkan oleh faktor alam yang terjadi tanpa diprediksi. Ancaman teknis bersumber dari perangkat software ataupun hardware, sedangkan ancaman manusia berasal dari kegiatan manusia sebagai pengguna sistem. Manusia berkedudukan sebagai operator ataupun sebagai administrator. Seringkali ancaman manusia menduduki ancaman utama karena sebaik dan secanggih sistem yang digunakan, manusia sebagai operator memiliki kegiatan non teknis yang akhirnya mengganggu sistem perpustakaan.
Antisipasi keamanan sistem informasi perpustakaan menggunakan analisa social engineering merupakan jawaban untuk meminimalisir ancaman yang disebabkan oleh faktor manusia. Social engineering merupakan penggunaan non teknis untuk mendapatkan akses informasi yang tidak sah ke sistem komputer ataupun sistem informasi. Social engineering adalah suatu teknik pencurian atau pengambilan data penting dari seseorang dengan cara menggunakan pendekatan manusiawi melalui interaksi sosial. Kelemahan manusia menjadi obyek ancaman keamanan dengan cara mengeksploitasi kelemahan manusia untuk mendapatkan informasi secara tidak sah.

Kata kunci: Keamanan sistem, Social Engineering, Security

Senin, 09 November 2015

REVITALISASI PERPUSTAKAAN SEKOLAH BERBASIS MANAJEMEN PENGETAHUAN



Abstrak Call For Paper Semiloka Kepustakawanan Indonesia UPI Bandung 'Library Move On' 2015
Hakikat pendidikan adalah terjadinya proses transfer ilmu pengetahuan antara guru dan murid yang didukung oleh kesatuan komponen secara efektif dan berbudaya. Sinergitas komponen pendidikan menghasilkan peserta didik yang cerdas dan bertanggung jawab. Perpustakaan berbasis manajemen pengetahuan menjadi kunci bagaimana didalam masyarakat berpengetahuan terdapat murid net generation berperilaku adaptif terhadap fenomena yang terjadi dimasyarakat. Dengan internet dan perangkat teknologi informasi mereka tidak lagi sekedar mengembangkan interaksi dan komunikasi secara berkelompok yang terbatas, tetapi dengan jejaring online mereka menjalin hubungan dengan siapa pun untuk akses informasi. Perpustakaan sekolah berbasis manajemen pengetahuan sebagai model penilaian kualitas layanan perpustakaan dapat digunakan sebagai sarana untuk memberikan layanan maksimal kepada net generation. Tantangan yang harus diakomodasi oleh sekolah adalah bagaimana melayani peserta didik dengan karakteristik budaya digital yang berbeda dengan generasi sebelumnya. Diperlukan kerjasama antara pustakawan, guru dalam menciptakan perpustakaan berbasis manajemen pengetahuan sebagai kunci pembelajaran untuk mendapatkan ilmu pengetahuan yang dapat dipertanggungjawabkan.

Selasa, 27 Oktober 2015

PERSPEKTIF AKREDITASI PERPUSTAKAAN GENERASI INTERNET


Abstrak call for paper 'Akreditasi Perpustakaan Perguruan Tinggi' Perpustakaan Pusat UII Yogyakarta

Library is growing organism memberikan gambaran nyata bahwa salah satu dari lima dalil hukum Ranganathan telah diaplikasikan oleh masyarakat saat ini. Perpustakaan telah berkembang dan berevolusi menjadi lembaga layanan informasi sesuai dengan pola peradaban masyarakat. Perkembangan dan perubahan sosial budaya yang terjadi dipengaruhi oleh teknologi informasi dan komunikasi yang kemudian memunculkan kondisi masyarakat yang berkembang dinamis dengan aspek keabsahan dan nilai informasi menjadi tujuan utama. Informasi berfungsi sebagai pengetahuan yang digunakan untuk berinovasi dalam memenangkan persaingan dan proses pengambilan keputusan. Pola perkembangan masyarakat berpengetahuan memunculkan perubahan struktur masyarakat dari masyarakat agraris, masyarakat industri dan masyarakat informasi. Dewasa ini dengan berbagai indikator-indikator tentang perubahan masyarakat, maka memunculkan masyarakat informasi sebagai perkembangan pola pengetahuan dan teknologi yang menyertainya. Pada tataran kehidupan akademik civitas akademika, perpustakaan sebagai salah satu unsur pendukung menerapkan penilaian kualitas melalui aspek-aspek akreditasi menjadi keharusan yang harus dilaksanakan. Lembaga perpustakaan berkewajiban mempertanggungjawabkan layanan maksimal sebagai information center, penyedia layanan informasi, manajemen pengetahuan yang pada hakikatnya perpustakaan melayani golongan masyarakat berpengetahuan sebagai dampak dari nilai informasi sebagai tulang punggung kehidupan.
Akreditasi perpustakaan menjadi kata kunci bagaimana didalam masyarakat berpengetahuan terdapat golongan kelompok remaja yang biasa disebut sebagai net generation berperilaku adaptif terhadap fenomena yang terjadi dimasyarakat. Dengan adanya internet dan perangkat teknologi informasi mereka tidak lagi sekedar mengembangkan interaksi dan komunikasi secara berkelompok yang terbatas, tetapi dengan dukungan jejaring online mereka akan bisa menjalin hubungan dengan siapa pun di berbagai belahan dunia dan bahkan membangun komunitas tersendiri diantara sesama anggota komunitasnya. Akreditasi sebagai model penilaian kualitas layanan perpustakaan dapat digunakan sebagai sarana untuk memberikan layanan maksimal kepada net generation. Penilaian akreditasi perpustakaan bagi generasi internet memberikan gambaran bagaimana perpustakaan harus bertransformasi baik yang bersifat internal dan eksternal bagi layanan informasi perpustakaan yang lebih baik.